Teknologi digital dapat memulai revolusi ilmiah baru! Part 1

Lewat instrumen seperti teleskop dan mikroskop, manusia sudah bisa belajar perihal organisme dan dunia jasmani daerah mereka hidup.

Tapi sedangkan kami sudah mempelajari perilaku dan masyarakat manusia untuk waktu yang lama, kami tak mempunyai instrumen yang sekuat teleskop atau mikroskop untuk memandang pola perilaku manusia.

Namun kini, teknologi komputerisasi dan kesanggupannya untuk memproses sejumlah besar data yang diciptakan manusia bisa menjadi alat yang kuat untuk penelitian ilmu sosial.

Baca juga : Digital printing

Dunia mirip dengan teleskop yang memungkinkan kita memandang hal-hal dengan metode yang tak dapat dilaksanakan sebelumnya. Lewat teknologi komputerisasi, para ilmuwan bisa memandang sikap dan perilaku sejumlah besar orang. Dunia memungkinkan perhatikan dan adakalanya eksperimen dalam skala besar.

Pengumpulan “data besar” dan kecakapan untuk melaksanakan eksperimen mengaplikasikan dunia maya, mungkin yakni permulaan dari revolusi ilmiah dalam penelitian sosial. Namun ada pertimbangan etis penting yang juga perlu diperhitungkan.

Bagaimana revolusi ilmiah diawali
Revolusi ilmiah diawali dengan temuan instrumen baru.

Sebagai model, lima ratus tahun yang lalu sesudah temuan teleskop , ningrat Denmark Tycho Brahe mengaplikasikannya untuk memandang benda-benda langit.

Ia mengumpulkan data perihal lokasi benda-benda planet. Ia tak paham apa artinya data itu, tapi ia konsisten mengumpulkannya. Data yang dikumpulkan oleh Brahe menjadi dasar perhitungan oleh matematikawan Johannes Keppler . Ia menemukan pola dari data Brahe, dan menemukan bahwa planet-planet bergerak dalam wujud elips.

Seratus tahun kemudian, Isaac Newton merumuskan teori gravitasi , merevolusi pemahaman kita perihal metode kerja alam. Dengan memahami gravitasi, kita tak cuma memahami pergerakan planet dan bintang, tapi manusia juga kapabel mewujudkan teknologi seperti satelit, perjalanan ruang angkasa, dan GPS.

Booth Pameran

Dari cerita itu kita bisa mengamati bahwa kemajuan dalam sains diawali dari pengumpulan data murni yang dimungkinkan oleh temuan instrumen pengamatan baru. Matematikawan menemukan pola dari dalam data, menciptakan teori dan merevolusi pemahaman kita perihal alam semesta.

Demikian pula, pakar biologi mengamati di bawah mikroskop mereka dan mengamati mikroorganisme, sel, dan hal-hal kecil lainnya yang menyusun kehidupan. Ini kini sudah berkembang ke terobosan dalam ilmu kehidupan, dari menemukan obat untuk berjenis-jenis penyakit sampai pengeditan gen.

Tantangan dalam penelitian sosial
Tak seperti ilmuwan yang mempelajari ilmu alam atau jasmani, ilmuwan sosial menghadapi dilema mendasar dalam menguji dan mengeksplorasi teori-teori baru.

Dalam melaksanakan penelitian, cara ilmiah ialah memandang dan bereksperimen. Fisikawan tak mewawancarai elektron yang mereka teliti. Spesialis biologi tak mewawancarai DNA. Ilmuwan sosial ialah satu-satunya yang sepatutnya mengajukan pertanyaan terhadap subjek penelitian mereka.

Itu tak berarti bahwa perhatikan dan eksperimen skala besar dalam penelitian sosial tak ada. Mereka mengerjakannya. Namun ini amat terbatas . Cara lazim dalam penelitian sosial kuantitatif ialah lewat survei.

Satu dilema yang terang dalam penelitian survei ialah bahwa orang kadang-kadang mempunyai daya ingat yang lemah perihal perilaku atau sikap mereka. Umpamanya, seseorang bertanya berapa kali mereka memeriksa hand phone jago mereka dalam sehari bisa menjawab dengan bentang angka yang amat luas yang mungkin tak benar . Kecuali itu, ada, pada kans langka, insentif bagi orang untuk berdusta .

Bagaimana teknologi komputerisasi bisa merevolusi penelitian sosial
Teknologi komputerisasi merekam perilaku dan sikap orang. Pintar kami yang dilengkapi GPS menaruh data mobilitas, bank dan perusahaan kartu kredit mempunyai pola pengeluaran kami, dan media sosial menangkap suasana hati dan pikiran kami.

Kadang-kadang kita tak perlu bertanya terhadap orang lain perihal perilaku mereka, kita cuma perlu memandang kegiatan mereka secara online.

Dalam penelitian sosial, eksperimen amat susah dilaksanakan sebab membutuhkan golongan kontrol untuk memperbandingkan kepada subjek yang diuji, dan amat susah untuk mempertahankan lingkungan yang terkontrol. Ilmuwan sosial tak bisa mewujudkan situasi kehidupan sosial yang berbeda sebab kita tak bisa mewujudkan alam semesta sejajar.

Di dunia maya kita bisa mengontrol lingkungan komputerisasi. Dunia memberikan kans baru untuk bereksperimen.

Artikel selanjutnya : Digital printing jakarta

Tinggalkan Balasan