Internet Jadi Sumber Pengajaran Seks Bagi Hati

Saint Monica School Jakarta – Keluarga semestinya menjadi pintu utama dalam hal pengajaran seksual dan kesehatan reproduksi. Sayangnya, fenomena yang terjadi merupakan sebaliknya.

Dengan pesatnya teknologi, si kecil-si kecil justru mencari tahu mengenai hal-hal hal yang demikian secara online. Keluarga sebagai pembelajar dalam pengajaran seksual untuk si kecil justru tak menjadi opsi utama. Kenapa hal itu dapat terjadi? Simak tulisan ini untuk jawaban kenapa Google jadi sumber pengajaran seks bagi si kecil dan lima fakta yang harus diwaspadai orang tua.

TECHsex Youth Sexuality and Health Online, sebuah studi nasional yang meriset dan mempelajari seputar teknologi, si kecil muda, dan kesehatan seksual mengucapkan bahwa dari 1500 responden si kecil umur 13 hingga dengan 24 tahun, cuma terdapat 7 persen saja yang merasa keluarga merupakan daerah belajar tepat sasaran mengenai seks, seksualitas, dan kesehatan reproduksi.

Dalam laporan penelitian yang diterbitkan tahun 2017 hal yang demikian, diceritakan bahwa media online berupa Google dipilih sejumlah 21 persen koresponden sebagai daerah paling tepat sasaran dalam belajar perkara hal yang demikian.

Dibanding dengan media online lain, Google menempati posisi pertama. Sebanyak 62 persen menyebut Google sebagai laman paling banyak diakses si kecil muda untuk bertanya mengenai info kesehatan reproduksi.

Google acap kali memberikan info yang tak valid

Lebih-lebih menjadi dilema berikutnya merupakan info kesehatan reproduksi dan seksual secara online, dalam hal ini melewati mesin pencari Google, seringkali tak pas. Tak lagi, kalau info diakses tanpa diseleksi lebih-lebih dulu, bisa menjurus pada pornografi dan menyesatkan.

Meski sedikit si kecil yang percaya dan puas dengan info di Google
Dalam penelitiannya, TECHsex Youth Sexuality and Health Online mengucapkan bahwa kepercayaan si kecil muda kepada info dari Google merupakan 20 persen benar-benar percaya, 60 persen agak percaya, 16 persen netral, dan 3 persen agak tak percaya.

Ialah kalau diperhatikan dari tingkat kepuasan atas info yang mereka dapatkan, sebanyak 20 persen merasa benar-benar puas, 60 persen agak puas, 16 persen netral, dan 3 persen agak tak puas.

Tingkat kepercayaan si kecil muda kepada info dari Google adalah tantangan tersendiri, lebih-lebih untuk pihak-pihak yang berkaitan hal hal yang demikian. Orang tua yang berkapasitas sebagai sahabat belajar dan pihak-pihak penyedia info yang sebaiknya bertanggung jawab atas konten yang mereka hadirkan.

Kunjungi Juga : Saint Monica Kelapa Gading

Tinggalkan Balasan