Arti Warna dan Fungsi pada Helm Safety di Rumah Sakit

Related image

Ungkapan tersebut memang sesuai karena, kesehatan dan keselamatan kerja sudah menjadi hal penting yang wajib dipahami oleh tiap pekerja di suatu perusahaan. Menurut undang – undang No. 36 Tahun 2009 perihal kesehatan kerja pasal 164, upaya kesehatan kerja dimaksudkan untuk melindungi pekerja supaya hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta imbas buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan. Setiap perusahaan dan tenaga kerja tentunya harus sama-sama mengenal perihal keselamatan kerja sesuai dengan standar operasional yang berlaku, salah satunya bisa dilakukan dengan menerapkan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai dengan standarisasi.

Simak Juga: Kacamata Safety

Berdasarkan Undang-undang Menteri Ketenagakerjaan Nomor 8/MEN/VII/2010, Alat Pelindung Diri (APD) merupakan suatu alat yang memiliki kemampuan untuk melindungi seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari bahaya akibat aktivitas di tempat kerja. Setiap perusahaan wajib untuk menyediakan APD yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi pekerjanya. Salah satu contoh APD yaitu Helm Safety. Helm keselamatan atau helm safety ini berfungsi untuk melindungi kepala dari pukulan, benturan, atau kejatuhan benda tajam dan berat yang melayang atau jatuh dari udara. Helm ini juga bisa melindungi kepala dari radiasi panas, api, percikan bahan kimia maupun temperatur yang ekstrim.

Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas umum sering mengalami gangguan fungsional ataupun struktural akibat bencana internal contohnya kebakaran dan gedung runtuh. Sebagai salah satu tempat yang rawan akan terjadi bencana tentunya setiap rumah sakit harus menyediakan fasilitas APD untuk segala tenaga medis yang bekerjai di Rumah Sakit tersebut. Salah satu kelengkapan APD yang umum kita jumpai di Rumah Sakit adalah helm safety. Tetapi helm safety di Rumah Sakit sedikit berbeda dengan di Proyek. Warna helm safety yang tersedia di Rumah sakit umumnya terdiri dari warna merah, biru, kuning dan putih dimana setiap warna mempunyai tugas yang bebeda dalam menghadapi kondisi gawat darurat seperti misalkan bencana kebakaran. Adapun pembagian tugas menurut warna helm sudah dirincikan sebagai berikut:

  1. Helm warna merah bertugas sebagai pemadam api
  2. Helm warna biru bertugas mengevakuasi pasien
  3. Helm warna putih bertugas mengamankan dokumen-dokumen
  4. Helm warna kuning bertugas mengamankan alat-alat medis

Cek Juga: Rompi Safety

Berdasarkan UU RI No. 24 Tahun 2007, Kesiapsiagaan Tanggap Darurat Petaka yaitu serangkaian aktivitas yang dilakukan dalam upaya untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melewati langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Oleh sebab itu, mengingkat pentingnya hal-hal tersebut perlu diadakannya edukasi baik untuk petugas medis ataupun non medis. Dengan bekerja sama dengan PMI dan Pemadam Kebakaran membuat aktivitas Pelatihan Dan Simulasi Kesiapsiagaan Tanggap Darurat Petaka. Kegiatan ini harus dikerjakan untuk melatih kesigapan dan kerjasama setiap karyawan saat menghadapi suatu bencana. Kegiatan ini bertujuan untuk:

  1. Melatih seluruh pekerja dalam menghadapi dan melayani pada kondisi keadaan kedaruratan bencana untuk melaksanakan tugasnya.
  2. Melatih koordinasi antar seluruh bagian, unit dan satuan tugas di tempat kerja.
  3. Mengevaluasi kesiapan penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan tambahan dan fasilitas umum lainnya disaat kondisi darurat bencana.
  4. Mengevaluasi waktu reaksi pemberian pelayanan dan bantuan medis.

Selain itu penyediaan APD juga harus memadai dan sesuai dengan standar. Alat-alat tanggap darurat seperti (Alat Pemadam Api Ringan), Helm Safety, dan alarm penanda kebakaran juga harus disediakan di setiap ruangan di Rumah Sakit. Kesehatan dan keselamatan kerja yaitu salah satu faktor yang utama dalam dunia ketenagakerjaan. Oleh karena itulah banyak aturan perundang-undangan yang diwujudkan untuk mengatur masalah kesehatan dan keselamatan kerja.

Walau sudah banyak ketetapan yang mengatur mengenai kesehatan dan keselamatan kerja, akan tetapi masih banyak faktor di lapangan yang memberi pengaruh kesehatan dan keselamatan kerja yang disebut sebagai bahaya kerja dan bahaya nyata. Masih banyak pula perusahaan yang tidak memenuhi standar keselamatan dan kesehatan bagi para pekerja sehingga banyak terjadi kasus kecelakaan kerja.

Baca Juga: Alat Keselamatan Kerja

Tinggalkan Balasan